Gangguan Berbahasa (Latah)
GANGGUAN BERBAHASA (LATAH)
Oleh : Reti Ratna Dila
Nim : A1D117006
E-mail : retiratnadila81@gmail.com
PENGANTAR
Latah merupakan salah satu gangguan kefasihan berbicara (fluency disorder). Produksi ujaran latah cukup unik karena ada pengulangan bunyi secara sistematis. Latah atau ekolalia memiliki artian perilaku membeo atau menirukan ucapan orang lain. Ini merupakan sindrom yang terdiri atas curah verbal repetitif yang bersifat jorok (koprolalla) dan gangguan lokomotorik yang dapat dipancing. Kata-kata jorok yang ditiru cenderung berorientasi pada alat kelamin laki-laki. Pengungkapan bentuk lingual yang merujuk pada alat kelamin secara vulgar tersebut menggiring peneliti Barat membangun persepsi bahwa individu latah adalah orang-orang sakit jiwa atau berperilaku abnormal. Hal ini kemudian dianulir peneliti Indonesia dan sebagian peneliti luar negeri yang menegaskan bahwa perilaku tersebut muncul pada saat kesadaran seseorang menurun dan mereka akan hidup normal ketika kesadaran mereka penuh. Yang sering dihinggapi sindrom ini adalah wanita berumur 40 tahun ke atas. Timbulnya latah ini berkorelasi dengan kepribadian histeris.
PEMBAHASAN
Penyebab Latah
Analisis yang dilakukan oleh beberapa ahli menyebutkan bahwa latah merupakan fenomena psikologis yang muncul karena masyarakat Asia Tenggara, sebagai negara terjajah (colonized) dan terisolasi (isolated) mengalami trauma dan keterkejutan tatkala bertemu dengan dunia Barat yang baru, asing, penuh kebebasan, mengagumkan dan kuat (Kenny 1978; Tseng 2006; Winzeler 1984). Kenyataan ini bila disepadankan dengan pembagian lingkup sepuluh budaya di Jawa Timur sungguh menjadi hal yang menggelitik. Apalagi pembagian sepuluh wilayah budaya yang dilakukan Sutarto (2004) menunjukkan fakta bahwa setiap wilayah budaya di Jawa Timur menunjukkan kekhasan, termasuk dalam lingkup jenis perilaku latah individunya.
Perilaku latah yang sangat unik dan tidak dapat dilepaskan dari fenomena budaya serta kejiwaan, tentu tidak serta-merta terselesaikan dari satu sudut pandang keilmuan. Berangkat dari konstruksi pemikiran bahwa budaya dalam suatu masyarakat mau tidak mau harus dipatuhi oleh masyarakat yang hidup di dalamnya. Budaya dalam hal ini dapat dianggap memberikan “tekanan” pada individu yang mengakibatkan tekanan psikis. Tekanan psikis yang tidak terkendalikan tersebut diekspresikan dengan salah satu relnya adalah pengungkapan melalui bahasa (Chaer 2003:5). Arifudin (2010:3) menyebutkan bahwa kajian tentang proses dan representasi kognitif berada di balik penggunaan bahasa. Psikolinguistik terbagi atas empat bidang kajian, yaitu (1) produksi bahasa, (2) pemahaman bahasa, (3) leksikon dwibahasa, dan (4) perilaku bahasa yang menyimpang. Dalam hal produksi bahasa, pemahaman bahasa, leksikon dwibahasa, dan perilaku bahasa yang menyimpang, tentu tidak dapat dilepaskan dari konteks budaya yang melingkupinya. Diakui atau tidak, budaya yang ada memberikan kontribusi baik positif maupun negatif dalam membentuk perilaku individu termasuk perilaku latah.
Berdasarkan hal tersebut di atas, bidang kajian yang digarap dari sudut pandang psikolinguistik adalah yang berkaitan dengan perilaku bahasa yang menyimpang. Hal ini disebabkan reaksi verbal (bahasa) yang muncul dari penyandang latah adalah serta-merta, spontan, sehingga keluar begitu saja tanpa mengalami proses normal dalam otak sehingga kadang-kadang reaksi verbal (bahasa) yang muncul kurang atau bahkan tidak berterima bagi masyarakat berkebudayaan Timur.
Selain itu, terdapat teori sosiolinguistik karena dalam sosiolinguistik bahasa tidak hanya dipahami sebagai sistem tanda, tetapi juga dipandang sebagai sistem sosial, sistem komunikasi dan sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat tertentu (Purnanto 2009). Fenomena yang terjadi pada perilaku latah sangat unik. Dalam keadaan sadar para penyandang latah akan menggunakan bahasanya sesuai dengan situasi dan kondisi, baik terkait dengan diksi (pilihan kata) maupun gestur (gerak tubuh) serta mimik (ekspresi muka). Namun demikian, kondisi tersebut akan berubah apabila penyandang latah dikejutkan (ditepuk, menengar objek jatuh, dikejutkan, dan lain-lain), maka diksi yang muncul, mimik, dan gestur tidak terkontrol lagi. Diksi yang merujuk pada alat kelamin yang secara situasi budaya tidak berterima dengan leluasa keluar bahkan berulang-ulang karena kondisi kesadaran yang menurun. Peristiwa demikian terjadi dengan sangat cepat dan di luar kesadaran para penyandang latah, dan bila kesadarannya telah kembali biasanya mereka akan meminta maaf atas ketidaksopanannya. Fenomena latah yang spontan keluar karena reaksi keterkejutan, dan saat ini justru semakin meluas, sangat menarik untuk diteliti karena penyandangnya tidak terjadi pada perempuan saja, tidak lagi yang berpendidikan rendah dan tidak lagi pada mereka yang berkelas ekonomi rendah tetapi mulai merambah pada kaum laki-laki, berpendidikan menengah ke atas, dan berkelas ekonomi menengah ke atas.
Bahasa pada individu berperilaku latah mempunyai keunikan tersendiri. Kata, frasa, klausa atau kalimat akan muncul dari individu latah pada saat mendapatkan stimulus. Stimulus berupa tepukan, suara keras dan sebagainya akan mendapatkan reaksi (respons) spontan, berupa kata-kata atau frasa, bahkan kalimat yang ke luar begitu saja, tanpa kontrol, karena kesadarannya menurun.
Dalam diri setiap manusia telah terdapat piranti untuk mampu berbahasa yang disebut LAD (Language Acquisition Device) yang memungkinkan setiap orang untuk mampu berbahasa apa pun, berbahasa dengan baik dan benar, berdasarkan aturan tata bahasa maupun sesuai dengan situasi dan kondisi. Sedikit berbeda dengan indvidu berperilaku latah, yang menurut beberapa ahli melakukan penyimpangan perilaku termasuk penyimpangan bahasa.
Chaer (2003:176) mengatakan bahwa seseorang akan mengeluarkan kalimat apabila orang lain mengeluarkan stimulus. Kreativitas seseorang untuk mengeluarkan kalimat hanya diterangkan menurut konsep S -------- R, yaitu sebagai wujud rangkaian peristiwa yang dihubungkan. Lebih lanjut, Chaer (2003:176) mengatakan bahwa satu kalimat yang diucapkan seseorang merupakan respons dari rantaian kata yang muncul sebelumnya (yang mendahuluinya). Hal yang sama juga terjadi pada tataran fonologi, yaitu berkaitan dengan bunyi kata-kata, yang hal tersebut merupakan rantaian S ------ R saja.
Pada individu latah, orang-orang dengan sangat leluasa menggunakan bahasanya, tidak peduli apakah bahasa tersebut berterima atau tidak bagi masyarakat di sekitarnya karena hal-hal yang diungkapkannya di luar kendalinya, yakni didominasi oleh otak tak sadarnya. Teori yang dikemukakan oleh Fairclough (1992:27) pun sangat sulit diterapkan karena perilaku bahasa para penyandang latah jelas keluar dari konvensi masyarakat yang di dalamnya juga terdapat social orders (tatanan sosial) yang structured (terstruktur). Prinsip kesantunan yang menjadi aturan atau konvensi masyarakat sangat jauh diterapkan karena kembali berurusan dengan otak taksadar manusia. Ungkapan nyuwun duka, nyuwun pangapunten „mohon maaf‟ atau ampura „maaf‟ seperti strategi komunikasi orang Bali (Sartini 2016:233-246), baru terungkapkan ketika kesadaran individu latah tersebut pulih.
Mengacu pada pendapat Fairclough di atas, dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan bagian kebudayaan. Sebaliknya, kebudayaan merupakan wahana utama bagi pewarisan, sekaligus pengembangan kebudayaan. Duranti (1997:27) menyebutkan bahwa mendeskripsikan suatu budaya sama halnya dengan mendeskripsikan bahasa.
Hubungan antara analisis bahasa dengan kebudayaan juga dikemukakan Lee sebagaimana dikutip oleh Palmer (2003), bahwa tata bahasa mengandung pembentukan pengalaman. Tata bahasa berhubungan secara langsung dengan skema kesan, model kognitif, dan pandangan tentang dunia. Palmer (2003) lebih lanjut mengatakan bahwa fonologi adalah budaya. Pandangan Palmer ini didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa digunakan oleh suatu masyarakat tutur merupakan manifestasi atau refleksi dari kognisi (kesadaran, perasaan, pengalaman, dan persepsi). Pandangan tersebut sejalan dengan Barker (2004:69) yang menyatakan bahwa “memahami kebudayaan berarti mengeksplorasi bagaimana makna dihasilkan secara simbolis melalui praktek-praktek pemaknaan bahasa.”
Jenis-Jenis Latah
Secara umum ada empat jenis latah, antara lain:
ekolalia, yaitu latah dengan mengulangi perkataan orang lain. Contoh: jika orang yang berada di dekat penderita mengagetkannya dengan menyebutkan kata copot, maka penderita latah secara spontan akan mengulangi kata tersebut berulang-ulang;
ekopraksia, yaitu latah dalam bentuk meniru gerakan orang lain. Contohnya, orang latah ketika melihat orang lain bertingkah laku yang menarik perhatiannya, seperti menganggukkan kepala, secara spontan ia akan meniru menganggukkkan kepala secara berulang-ulang;
koprolalia, yaitu latah dengan mengucapkan kata-kata tabu atau kotor. Artinya, ketika ada seseorang yang mengagetkannya, secara spontanitas penderita latah akan mengeluarkan kata-kata tabu atau kotor secara berulang-ulang; dan
automatic obedience, yaitu melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut. Misalnya, ketika penderita dikejutkan dengan seruan perintah seperti ”sujud” atau ”peluk”, ia akan segera melakukan perintah itu.
Cara Mengobati Latah
Perilaku latah dapat terjadi akibat seringnya subyek berinteraksi dengan orang-orang yang juga menderita latah, sehingga terjadi proses pengamatan. Di samping itu, penguat positif yang diberikan oleh orang-orang sekitarnya menyebabkan subyek cenderung mempertahankan perilaku latahnya. Pada awal latahnya, subyek merasakan ketidak nyamanan, sehingga mengupayakan untuk sembuh, akan tetapi karena upayanya tidak membuahkan hasil mereka akhirnya bisa menerima keadaan dirinya yang latah. Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan, antara lain memakan jangkrik, melakukan shock therapy setiap hari Jum’at, bersikap judes supaya tidak diganggu, menggigit lidah agar tidak mudah latah, mengikuti terapi FGD, disiram dengan air bekas cucian perabot rumah tangga, meminum air yang sudah dijampi-jampi ataupun di do’a-do’a. Adapun upaya-upaya yang dilakukan tidak membuahkan hasil dalam mengatasi perilaku latah, disebabkan karena selain ada kecenderungan mempertahankan perilaku latahnya untuk mendapat perhatian, lingkungan juga kurang mendukung kesembuhan subyek, di samping itu juga disebabkan ketidak tahuan subyek mengenai cara penanganan yang benar yaitu dengan berkonsultasi kepada dokter atau ahli jiwa.
DAFTAR PUSTAKA
http://e-jurnal.unair.ac.id/MOZAIK/article/download/5752/pdf
http://ejurnalbalaibahasa.id/index.php/madah/article/download/636/426
http://eprints.umn.ac.id/8205/1/GANGGUAN_LATAH.pdf
http://repository.uin-malang.ac.id/1296/1296.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstrem/handle/123456789/24440/Chapter%20II.pdf?sequence=4&isAllowed=y
Komentar
Posting Komentar