Artikel gangguan berbahasa (GAGAP)

Nama   : Fenny Anggraini
NIM    : A1D117011

GAGAP
1.              Pengantar
Berbahasa merupakan proses mengeluarkan pikiran dan perasaan (dari otak) secara lisan berbentuk sebuah kalimat atau kata. Proses sifatnya kompleks dikarenakan proses mensyaratkan berfungsinya berbagai organ yang mempengaruhi mekanisme berpikir, berbicara, atau mengolah buah pikiran ke dalam bentuk kata-kata, serta modalitas mental yang terungkap saat berbicara yang juga ditentukan oleh faktor lingkungan. Pengaruh besar dalam kegiatan berbahasa yaitu terletak pada sistem kerja otak dikarenakan otak adalah sentral dari seluruh kegiatan tubuh manusia. Jika sistem kerja otak terganggu, maka kegiatan berbahasapun akan terganggu.
Salah satu kelainan bawaan yang menyerang sistem kerja saraf atau otak adalah gangguan berbicara pada penyandang gagap. Gagap atau stuttering merupakan salah satu bentuk kelainan bicara yang ditandai dengan tersendatnya pengucapan kata-kata. Gagap terjadi ketika sebagian kata terasa lenyap, penutur mengetahui kata itu, akan tetapi tidak dapat menghasilkannya (Cahyono, 1994:262).
Gagap membuat berbicara tersendat-sendat, kacau mendadak berhenti, lalu mengulang-ulang suku karta pertama, kata-kata berikutnya, dan setelah berhasil mengucapkan kata-kata itu kalimat dapat diselesaikan. Penderita gagap sangat susah mengucapan suku kata awal, tetapi berhasil mengucapkan konsonan atau vokal awalnya dengan susah payah hingga bisa menyelesaikan kalimatnya. Dalam usahanya mengucapkan kata pertama yang barangkali gagal, penderita gagap menampakkan rasa letih dan kecewanya. Penyebab gagap belum diketahui secara tuntas. Gagap termasuk disfasia ringan yang sering terjadi pada kaum lai-laki, lebih banyak terjadi pada golongan remaja daripada orang dewasa. Gagap biasanya dimulai pada usia antara 2 dan 7 tahun dan terdapat pada sekitar 1 di antara 100 anak sebelum pubertas (APA, 2000).

2.             Pembahasan
Bila anak bicara dengan cara "aaa...aaakkuu", "eee..eebaju" atau mungkin, "mak...mak...makkann", anak bisa dikategorikan sebagai anak gagap. Gagap juga bisa disebabkan faktor neurologis. Untuk penanganannya anak harus segera dibawa ke dokter agar mendapat pengobatan lebih intensif.
Gagap yang disebabkan faktor psikologis biasanya dialami anak- anak yang mengalami tekanan. Misalnya orangtua yang terlalu keras, otoriter, bahkan kasar. Gagap psikologis ini akan bertambah parah bila anak mendapat hukuman dari lingkungan. Semisal ditertawakan temannya, dikagetin atau tiap kali gagap orang tua langsung melotot sambil membentak, "Ayo, bicara yang benar!" Anak akan makin tegang dan gagapnya makin menjadi-jadi.
Ketegangan emosional ini berhubungan langsung dengan ketegangan otot bicaranya. Makin tegang otot-otot bicaranya, anak akan makin kesulitan. Cara menangani anak dengan gangguan ini adalah dengan mengajaknya tenang, ambil napas dan konsentrasi pada apa yang akan diucapkannya. Kalau perlu elus-elus punggungnya untuk memberi rasa tenang. Sedangkan pada kasus anak gagap yang parah, sebaiknya libatkan ahli.
Penyebab gagap terbagi menjadi 3 tipe, yakni :
·         Pertumbuhan. Gagap umumnya terjadi pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Gagap yang muncul merupakan bentuk keterbatasan dalam menyampaikan suatu maksud melalui bahasa atau perkataan. Hal ini tergolong wajar dan akan hilang dengan sendirinya.
·         Neurogenik. Gagap neurogenik adalah gagap yang disebabkah oleh gangguan pada otak, saraf, dan otot yang terlibat dalam kemampuan berbicara. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh kecelakaan atau penyakit, misalnya stroke.
·         Psikogenik. Gagap psikogenik tergolong jarang terjadi. Tipe ini gagap disebabkan oleh adanya trauma atau masalah dalam pemikiran atau penalaran.
Metode mengobati gagap
·         Terapi bicara. Terapi ini berfokus pada mengurangi frekuensi munculnya gejala gagap saat berbicara. Pasien akan diberikan arahan untuk meminimalkan munculnya gagap dengan berbicara lebih perlahan, mengatur pernapasan saat berbicara, dan memahami kapan gagap akan muncul. Terapi ini juga dapat menghilangkan kegelisahan pada penderita yang sering muncul ketika akan melakukan komunikasi.
·         Menggunakan peralatan khusus. Pasien dapat menggunakan peralatan khusus yang bertujuan untuk mengendalikan gejala. Salah satu alat yang sering digunakan untuk mengendalikan gejala gagap adalah DAF atau delayed auditory feedback. Alat ini bekerja dengan mengulang apa yang penggunanya ucapkan, sehingga membuat pengguna seperti berbicara secara serempak dengan orang lain.
·         Terapi perilaku kognitif. Terapi perilaku koginitif bertujuan untuk mengubah pola pikir yang dapat memperburuk kondisi gagap. Selain itu, metode ini juga dapat menghilangkan stres dan rasa gelisah yang dapat memicu gagap.
     Belum ada obat-obatan yang terbukti dapat mengatasi gagap. Pada anak-anak, keterlibatan orang tua sangat berpengaruh. Memahami cara berkomunikasi yang baik dengan penderita gagap, dapat membantu dalam perbaikan kondisi penderita. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk berkomunikasi secara efektif dengan penderita gagap adalah:


  
DAFTAR PUSTAKA

Karkono, dkk. Produksi Kalimat Pada Penyandang Gagap. Universitas Negeri Malang.
Indah, Rohmania. 2017. Gangguan Berbahasa. Malang: UIN-MALIKI PRESS.
Aliah, Syarifah. 2013. Studi kasus pada anak taman kana-kanak yang mengalami hambatan
        berbicara. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi 10 (Refleksi praktek membaca)

Gangguan Berbahasa (Latah)

Materi 9 (Pembelajaran membaca(Metode, media dan penilain))